Artikel

Perkembangan Baitul Mal pada Masa Rasulullah dan Sahabat

Masa Rasulullah saw (1-11 H/622-632 M)

Baitul Mal sesungguhnya telah ada sejak masa Rasulullah SAW, yakni ketika kaum Muslimin mendapatkan ghanimah (rampasan perang) pada Perang Badar. Abdul Qadim Zallum menyebutkan dalam Al-Amwal fi Daulah al-Khilafah (1983), saat itu para sahabat berselisih paham mengenai cara pembagian harta rampasan tersebut sehingga turun firman Allah SWT menjelaskan hal itu.

Ayat itu (QS. Al-Anfaal: 1) berbunyi, “Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah, ‘Harta rampasan perang itu adalah milik Allah dan Rasul-Nya, oleh sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesama kalian, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kalian benar-benar orang-orang yang beriman'.”

Dengan ayat itu, Allah menjelaskan sebuah hukum tentang pembagian ghanimah, menetapkannya sebagai hak bagi seluruh Muslim, sekaligus memberikan wewenang kepada Rasulullah SAW untuk membagikannya sesuai pertimbangannya mengenai kemaslahatan kaum Muslimin.

Hal itu berarti pula bahwa ghanimah Perang Badar kala itu menjadi hak Baitul Mal, yang pengelolaannya dilakukan oleh waliyyul amri kaum Muslimin yang tak lain adalah Rasulullah SAW sendiri.

Dengan demikian, pada masa Rasulullah SAW, Baitul Mal mempunyai pengertian sebagai pihak yang menangani harta benda kaum Muslimin, baik pendapatan maupun pengeluaran. Karena belum melembaga, harta yang ada di Baitul Mal selalu habis seketika pada hari diperolehnya harta tersebut karena dibagikan ataupun dibelanjakan untuk urusan kaum Muslimin.

 

Read more ...

Menyambut Bulan Penuh Rahmat

Ibadah puasa termasuk ibadah yang paling utama dan ketaatan yang paling besar. Diantara keutamaannya, ibadah puasa telah diwajibkan Allah Subhanahu Wa Ta'ala kepada semua umat manusia sejak dulu, sebagaimana firman Allah dalam surat AlBaqarah ayat 183 yang berbunyi "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."

Read more ...

Orang Islam Harus Kaya

Tidak sedikit yang mencibir, manakala melihat seorang muslim yang taat agamanya atau seorang kiai, yang masih mengejar bisnis. Seakan seorang kiai atau orang saleh hanya identik dengan salat dan dzikir, bergaya hidup zuhud dan jauh dari kekayaan yang bersifat duniawi. Padahala orang yang saleh yang memiliki harta jauh akan membawa manfaat bagi umat. Seperti sabda nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam: "Sungguh terpuji harta yang suci itu bagi orang-orang saleh.

Read more ...

Menimbang Derajat Diri di Sisi Allah

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda,"Siapa yang ingin mengetahui kedudukannya di sisi Allah, maka hendaknya memperhatikan bagaimana kedudukan Allah dalam hatinya. Maka sesungguhnya Allah menempatkan (mendudukkan) hamba-Nya, sebagaimana hamba itu mendudukkan Allah dalam jiwanya (hatinya)".

Yang termahal di dalam hidup adalah keyakinan pada Allah. Semakin kuat dan mendalam keyakinan kita pada Allah, maka semakin beruntung hidup kita. Betapa tidak, saat itulah kita telah memiliki barang termahal dalam hidup.

Apalah artinya kita memiliki kekayaan melimpah, bila hati kita miskin dari mengenal Allah. Apalah artinya kita dikenal orang banyak, bila kita tidak mampu mengenal Allah.

Read more ...