Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah menjadikan manusia masing-masing saling membutuhkan satu sama lain, supaya mereka tolong menolong, tukar menukar keperluan dalam segala urusan kepentingan hidup masing-masing, baik dengan jalan jual beli, baik dalam urusan kepentingan sendiri maupun untuk kemaslahatan umum. Dengan cara demikian kehidupan masyarakat menjadi teratur dan subur, pertalian yang satu dengan yang lain pun menjadi teguh. Akan tetapi, sifat loba dan tamak tetap ada pada manusia, suka mementingkan diri sendiri supaya hak masing-masing jangan sampai tersia-sia, dan juga menjaga kemaslahatan umum agar pertukaran dapat berjalan dengan lancar dan teratur. Oleh sebab itu, agama memberi peraturan yang sebaik-baiknya sehingga perbantahan dan dendam mendendam tidak akan terjadi.

Nah, pada pembahasan kali ini, kita akan bersama-sama mengenal beberapa jual beli yang sah tetapu dilarang oleh agama. Apa sajakah itu? Peribut penjelasannya.

Mengenai jual beli yang tidak diizinkan oleh agama, disini akan diuraikan beberapa cara saja sebagai contoh perbandingan bagi yang lainnya. Yang menjadi pokok sebab timbulnya larangan adalah:

  • Menyakiti si penjual, pembeli, atau orang lain
  • Menyempitkan gerakan pasaran
  • merusak ketenteraman umum.

Lalu, apa sajakah jual-beli yang sah tapi dilarang itu?

1. Membeli barang dengan harga yang lebih mahal daripada harga pasar, sedangkan dia tidak menginginkan barang itu, tetapi semata-mata supaya orang lain tidak dapat membeli barang itu. Dalam hadits diterangkan bahwa jual beli yang demikian itu dilarang.

2. Membeli barang yang sudah dibeli orang lain yang masih dalam masa khiyar. Apa itu khiyar? Khiyar artinya "boleh memilih antara dua, meneruskan akad jual beli atau mengurungkan (menarik kembali, tidak jadi jual beli)". Diadakan oleh syara' agar kedua orang yang berjual beli dapat memiliki kemaslahatan masing-masing lebih jauh, supaya tidak akan terjadi penyesalan di kemudian hari lantaran merasa tertipu.

Sabda Rasulullah Shollallahu 'alaihi wa sallam:






Dari Abu Hurairah,"Rasulullah Shollallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda,'Janganlah di antara kamu menjual sesuatu yang sudah dibeli oleh orang lain." (Sepakat ahli hadits).


3. Mencegat orng-orang yang datang dari desa di luar kota, lalu membeli barangnya sebelum mereka sampai ke pasar dan sewaktu mereka belum mengetahui harga pasar.

Sabda Rasulullah Shollallahu 'alaihi wa sallam:

 

 

 

 

Dari Ibnu Abbas,"Rasulullah Shollallahu 'alaihi wa sallam bersabda,"Jangan kamu mencegat orang-orang yang akan ke pasar di jalan sebelum mereka sampai di pasar." (Sepakat ahli hadits)

Hal ini tidak diperbolehkan karena dapat merugikan orang desa yang datang, dan mengecewakan gerakan pemasaran karena barang tersebut tidak sampai ke pasar.


4. Membeli barang untuk ditahan agar dapat dijual dengan harga yang lebih mahal, sedangkan masyarakat umum memerlukan barang itu. Hal ini dilarang karena dapat merusak ketenteraman umum.

Sabda Rasulullah Shollallahu 'alaihi wa sallam:

 

 

 

"Tidak ada orang yang menahan barang kecuali orang yang durhaka (salah)". (Riwayat Muslim).


5. Menjual suatu barang yang berguna, tetapi kemudian dijadikan alat maksiat oleh yang membelinya.

Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

 

 

 

"Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran." (Al-Maidah:2)

6. Jual beli yang disertai tipuan. Berarti dalam urusan jual beli itu ada tipuan, baik dari pihak pembeli maupun dari penjual, pada barang dagangan ataupun ukuran dan timbangannya.

Dari Abu Hurairah,"Bahwasanya Rasulullah Shollallahu 'alaihi wa sallam pernah melalui suatu onggokan makanan yang bakal dijual, lantas beliau memasukkan tangan beliau ke dalam onggokan itu, tiba-tiba di dalamnya jari beliau meraba yang basah. Beliau keluarkan jari beliau yang basah itu seraya berkata,"Apakah ini?" Jawab yang punya makanan,"Basah karena hujan, ya Rasulullah." Beliau bersabda,"Mengapa tidak engkau taruh di bagian atas supaya dapat dilihat orang? Barang siapa yang menipu, maka ia bukan umatku." (Riwayat Muslim).

Dalam hadits tersebut jelaslah bahwa menipu itu harga, berdosa besar. Semua ulama sepakat bahwa perbuatan itu sangat tercela dalam agama, menurut akal pun tercela.

Jula beli tersebut dipandang sah, sedangkan hukumnya haram karena kaidah ulama fiqih berikut ini: Apabila larangan dalam urusan muamalat itu karena hal yang diluar urusan muamalat, larangan itu tidak menghalangi sahnya akad.

Sumber: Fiqh Islam/H. Sulaiman Rasjid