Tidak sedikit yang mencibir, manakala melihat seorang muslim yang taat agamanya atau seorang kiai, yang masih mengejar bisnis. Seakan seorang kiai atau orang saleh hanya identik dengan salat dan dzikir, bergaya hidup zuhud dan jauh dari kekayaan yang bersifat duniawi. Padahala orang yang saleh yang memiliki harta jauh akan membawa manfaat bagi umat. Seperti sabda nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam: "Sungguh terpuji harta yang suci itu bagi orang-orang saleh.

Selain itu, beliau juga mengatakan,"Sesungguhnya kefakiran (kemiskinan) itu bisa menjerumuskan ke jurang kekafiran." Maka tidaklah mengherankan bila kemudian banyak cerita seputar orang Islam yang murtad hanya demi satu kardus mie instan, roti dan biaya pendidikan. Keimanan mereka telah tergadaikan oleh kemiskinan. Na'udzubillah!

Untuk apa kekayaan bagi orang Islam? Tentu saja untuk beribadah kepada Allah, untuk berdakwah, membantu yang miskin, untuk umat. Seluruh harta kekayaan tersebut digunakan untuk menyembah Allah dengan lebih bersungguh-sungguh. Secara total. Sebab Allah berfirman,"Dan Aku tidak menciptakan ji8n dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku."

Bagaimana seseorang dapat salat dengan tenang sementara perutnya kelaparan? Bagaimana dapat berdzikir dengan tenang di tengah tangis anak yang meminta susu dan makanan? Bagaimana bisa bersedekah, zakat ataupun haji bila tidak memiliki uang? Bagaimana bisa menjaga harga diri sebagai muslim jika untuk membangun pesantren dan masjid harus meminta-minta di jalanan. Bagaimana kita menjaga kehormatan agama bila ayat-ayat Allah "dijual" dengan recehan di pemakaman dan bus kota?

 

Menjadi miskin adalah bahaya. Sebab miskin, ada suami yang rela menjual istrinya. Karena miskin ada ibu yang stres sehingga tega membakar anak-anaknya. Kemiskinan pula yang membuat seseorang terpaksa mencopet, mencuri dan mengemis. Kemiskinan pula yang membuat goyah iman seseorang sebab diiming-iming hidup yang nyaman.


Kemuliaan di tangan saleh

Sebuah hadits yang diriwayatkan Al-Hakim dan dinilai sahih oleh Imam Ahmad dan Adh-Dhahabi mengisahkan,"Suatu ketika Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam memanggil 'Amar bin Ash. Nabi bermaksud menyuruh 'Amar memakai baju besi dan membawa senjata. "Aku mengutusmu pergi berekspedisi dimana engkau akan mendapat banyak harta rampasan perang dan kau akan kembali dengan selamat, kuharap kau kembali membawa banyak harta."

'Amar menjawab,"Wahai Rasulullah, aku memeluk Islam bukan untuk memperkaya diri! Melainkan karena semangat mulia Islam."

"Oh 'Amar, sungguh terpuji, harta yang suci itu bagi orang-orang yang saleh!" jawab Nabi.

Hadits lain yang diriwayatkan Ibnu Majjah, Rasulullah bersabda,"Tidak ada mudarat (kerusakan, bahaya) dalam harta bagi mereka yang takwa, tetapi kesehatan itu lebih baik daripada menjadi kaya bagi mereka yang bertakwa."

Anjuran untuk berharta atau menjadi kaya, bukan berarti Rasulullah mengajarkan hidup materialistis. Rasulullah dan Khadijjah adalah keluarga kaya, tetapi kekayaan tersebut digunakan untuk perjuangan Islam. Kekayaan dapat menjaga harta diri dan martabat. Dengan kekayaan maka dapat beribadah dengan tenang.

Kaya di tangan orang yang tidak beriman hanya akan menghasilkan kesengsaraan bagi sekitarnya. Orang yang tidak beriman akan bersikap bakhil. Mereka akan memanfaatkan harta untuk kesombongan diri. Mereka akan memanfaatkan harta untuk kesombongan diri. Mereka lebih hebat, lebih kuasa dan bisa membeli apa saja.

Sementara kaya di tangan orang saleh adalah kemaslahatan untuk semua. Mereka akan menggunakan kekayaan tersebut untuk sarana ibadah, ladang menabur amal. Harta tersebut menjadi amanah bagi mereka sehingga hanya digunakan untuk kebaikan semata.


Menjemput rezeki, menjadi kaya

Ada petuah yang mengatakan,"Umur (kematian), jodoh dan rezeki adalah hak prerogratif Tuhan." Petuah itu memang benar. Umur, tidak ada yang tahu sampai berapa lama hidupnya. Kapan datangnya ajal, adalah misteri yang tidak terpecahkan oleh kemampuan manusia. Bahkan untuk menunda sedetik pun tidak akan bisa. Sementara jodoh juga misteri Ilahi. Meski sudah berikhtiar dengan segala cara bila belum berjodoh, tetap menjomblo juga.

Sementara rezeki, memang telah dicatat rezekinya oleh Allah di Lauhil Mahfuuzh. Yakni sebuah kitab lembaran nyata milik Allah tentang segala peristiwa yang akan terjadi mulai penciptaan hingga hari kiamat. Maka sejak dalam kandungan telah tercatat rezeki seseorang. Dan Allah sendiri puntelah menjanjikan rezeki untuk setiap makhluk ciptaan-Nya,"Dan tidak ada satu binatang melata (makhluk Allah yang bernyawa) pun di muka bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya. Dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semua tertulis dalam kitab yang nyata (Lauhil Mahfuuzh). (QS huud: 6)

Berarti rezeki kita masing-masing sudah disediakan oleh Allah. Tinggal menjemput rezeki tersebut. KH Abdullah Gymnastiar mengatakan bahwa rezeki itu dijemput, bukan dicari. Mengapa? Bila rezeki dicari, itu belum pasti adanya. Sementara menjemput rezeki, karena memang sudah pasti ada.

Sekarang tugas umat Islam adalah menjemput rezeki tersebut dengan segenap ikhtiar dan tawakal. Kalau mau berusaha dengan cara yang halal, niscaya Allah pasti memberi. Apalagi Allah mendorong manusia untuk menjadi kaya. Terbukti dengan adanya perintah kurban, zakat, haji, wakaf, dan lain-lain. Dengan kekayaan itulah manusia dapat bersaham secara keagamaan dalam menopang kesejahteraan orang lain.

Salah satu cara untuk menjadi kaya, seorang muslim seharusnya mempunyai pendidikan yang baik, sehingga mendapat pekerjaan yang baik pula sehingga mendapatkan penghasilan yang baik. Pendidikan dan pekerjaan serta penghasilan adalah tiga poin yang saling berhubungan. Jangan berharap kerja di tempat yang bagus bila pendidikan tidak menunjang, otomatis penghasilan pun demikian.


Kaya dengan harta yang halal

Terkadang untuk peroleh uang dan harta, orang menggunakan segala cara. Tidak merasa bersalah bahwa uang yang ia bawa pulang untuk makan istri dan anak-anaknya, adalah dari hasil korupsi. Kemudian dengan entengnya menganggap sedekah dan haji untuk menyucikannya.

Dalam skala kecil namun tidak mengurangi nilai nonhalalnya adalah apa yang dilakukan oleh para pedagang di pasar tradisional. Untuk mengejar harga murah mereka mengurangi timbangan. Untuk menarik pembeli, mulut mereka enteng berujar "Ini sudah harga murah, saya tidak mengambil untung sama sekali!" Lha kalau tidak ada untung apa mereka sedang kerja bakti? Dan masih banyak kecurangan yang karena kecil dianggap sepele dengan sadar dilakukan.

Menjemput rezeki dengan cara yang haram, sesungguhnya hanya akan berbuah kemiskinan. Baik di dunia maupun akhirat. Orang-orang kaya yang hartanya tidak berkah, akan selalu merasa kekurangan. Ia tidak akan pernah puas dan tidak bisa hidup tenang.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah bersabda,"Duhai umatku! Allah itu Maha Suci (al-Thayyib) dan Dia tidak menerima kecuali hanya yang suci! Allah telah menyuruh orang-orang yang beriman agar mengerjakan apa-apa yang diperintahkan-Nya kepada Rasul-Nya. Dia berfirman,"Wahai pada Rasul, makanlah dari makanan yang suci dan berbuat baiklah!" DIa juga berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari makanan yang halal lagi suci yang telah kami berikan kepadamu".

Mari kita audit kembali harta dan sumber penghasilan selama ini. Jangan-jangan ada yang berasal dari sumber yang tidak halal. Karena dari yang halal sajalah ridha Allah akan turun, doa bisa makbul dan rezeki akan semakin berlimpah.

Sumber: Majalah Paras