Artikel

Apa Itu Ihtikar?

Ihtikar berasal dari kata hakara yang artinya az-zulm (aniaya) dan isa' al-mu'asyarah (merusak pergaulan). Secara istilah berarti menyimpan barang dagangan untuk menunggu lonjakan harga. Menurut Imam Asy-Syaukani (wafat 1834) ahli hadits dan usul fikih, ihtikar adalah penimbunan barang dagangan dari peredarannya. Imam al-Ghazali mengartikan sebagai penjual makanan yang menyimpan barang dagangannya dan menjualnya setelah harganya melonjak. Adapun menurut ulama madzab Maliki, ihtikar adalah menyimpan barang oleh produsen, baik berupa makanan, pakaian, dan segala barang yang dapat merusak pasar.

Semua pendapat tersebut secara esensi mempunyai pengertian yang sama, yaitu menyimpan barang yang dibutuhkan masyarakat dan memasarkannya setelah harga melonjak, namun dari jenis barang yang disimpan atau ditimbun terjadi perbedaan. Imam asy-Syaukani dan madzab Maliki tak merinci barang apa yang disimpan tersebut. Berbeda dengan pendapat keduanya, Imam al-Ghazali mengkhususkan ihtikar kepada jenis makanan.

Read more ...

Adakah Pemutihan Utang dengan Utang dalam Islam?

Pengertian

Dalam khazanah ekonomi Islam dikenal istilah "muqashshah". Dalam bahasa Arab, muqashshah berarti, A mempunyai utang kepada B sebesar utang B kepada A, sedangkan secara istilah, muqashshah adalah dianggap lunasnya utang A kepada B, karena B mempunyai utang kepada A. Jadi, muqashshah adalah salah satu cara melunasi utang. Ibnu Jizzi, seorang ulama bermazhab Maliki mengatakan, "Muqashshah adalah pemutihan utang dengan utang."

Beda Muqashshah Dengan Ibra'

Dalam bahasa Arab, ibra' (pemutihan utang) memiliki makna membersihkan, memurnikan, dan menjauhi sesuatu. Adapun secara istilah, ibra’ adalah pemutihan kewajiban yang ada di pihak lain. Bedanya dengan muqashshah, muqashshah adalah pemutihan utang dengan kompensasi, sedangkan ibra’ adalah pemutihan utang tanpa kompensasi apa pun.

Read more ...

Allah Selalu Lindungi Pemakmur Masjid

"Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah lah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut kepada siapapun selain Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. At-Taubah: 18)

Masjid dibangun bukan saja sebagai tempat kemudahan beribadah, tetapi juga untuk menjadi katalis pembangunan dan lambang keutuhan serta kesatuan umat Islam. Jika kita menyorot sejarah, kelahiran negara Islam yang pertama berasaskan tauhid, persaudaraan dan kesatuan. Asas yang kukuh itu terpancar daripada masjid.

Masjid Nabawi telah menjadi pusat aktivitas rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Di masjid inilah Baginda merancang dan membangun umat. Sahabat-sahabat dan pengikut-pengikutnya juga memelihara sunah itu, hinggalah Islam berkembang ke seluruh semenanjung Tanah Arab dan seterusnya ke Eropa, Cina, Asia, dan seluruh dunia seperti yang kita lihat pada hari ini.

Read more ...