Aset Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) Bhakti Makmur Indah, Sidoarjo, Jawa Timur (Jatim), tumbuh pesat. Pada 2010, dari target aset Rp 42,1 miliar, realisasinya mencapai Rp 44,6 miliar atau 106,4 persen. Direktur Utama BPRS Tri Hari Wijayanto mengatakan, tak hanya aset yang targetnya terlampui, pendapatan pun otomatis naik menjadi Rp 8 miliar dari target Rp 7,7 miliar.



Pada 2011, BPRS pertama di Jawa Timur tersebut menargetkan pertumbuhan aset sebesar 25,78 persen dari Rp 44,6 miliar pada 2010 menjadi Rp 56,1 miliar. "Perusahaan kami bisa terus mencatatkan kinerja gemilang sebab sudah dipercaya masyarakat dalam hal pembiayaan," katanya di Surabaya, Senin (28/2).


Dari 24 BPRS yang bukan dimiliki pemerintah daerah, sambung Tri, pihaknya merupakan BPRS terbesar di Jatim yang melakukan pembiayaan kepada masyarakat. "Pembiayaan kami tahun 2010 sekitar Rp 30,4 miliar dan tahun ini ditargetkan mencapai Rp 48,8 miliar," ujarnya.

Melihat kinerja positif perusahaan selama ini, Tri optimistis target itu bisa dicapai. "Semuanya diraih dengan terus mendekatkan diri kepada masyarakat," katanya.

Operasional BPRS Bakti Makmur Indah dikelola dua orang direksi dengan 46 staf serta 12 tenaga non staf, dengan jaringan kantor meliputi satu kantor pusat, tiga kantor cabang, dua kantor kas, empat payment point, dan empat mobil keliling. BPRS yang berdiri pada 1994 tersebut dimiliki 188 pemegang saham.

Tri menyebut, jumlah pemilik rekening yang tercatat di BPRS Bakti Makmur Indah mencapai 15 ribu orang dengan mayoritas pedagang kecil dan menengah yang aktif mengelola usaha toko dan pasar. Dari total pembiayaan, alokasi untuk perdagangan sebanyak 70 persen dan sisanya untuk pengembangan jasa dan konsumsi.

"Pembiayaan kami berikan kebanyakan kepada para nasabah yang meminjam dana untuk memutar usahanya di pasar. Secara rata-rata jumlah yang dipinjam sekitar Rp 30 juta dengan rentang masa pengembalian dua hingga lima tahun," papar Tri.

Menurut Tri, dengan tingkat kesehatan bank pada 2010, BPRS Bakti Makmur Indah sesuai penilaian Bank Indonesia bertahan pada Peringkat Komposit I dengan kriteria bank yang memiliki kondisi tingkat kesehatan yang sangat baik dari hasil pengelolaan usaha yang sangat baik. "Rasio kecukupan modal (CAR) standar BI 8 persen, tapi kami 15 persen lebih. Cash rasio standar BI 10 persen, kami 29 persen. Kredit macet standar BI 7 persen, kami 2 persen. Kinerja kami melampaui standar yang ditentukan BI," papar Tri.

Ia melanjutkan, BPRS Bakti Makmur Indah juga tak lupa mengalokasikan keuntungan untuk dana CSR dalam bentuk zakat, infak, dan sedekah. Secara rutin setiap tahun, pihaknya menyantuni 500 kaum dhuafa dengan nilai sedekah sebesar Rp 75 juta.

"Jumlah itu terus meningkat dari tahun ke tahun. Di luar itu, kami juga mengeluarkan zakat mal dalam bentuk bantuan kepada masyarakat kurang beruntung, seperti korban bencana Merapi dan lumpur Lapindo," kata Tri.

Program ke depan, lanjut Tri, pihaknya akan memperluas jaringan kerja perusahaannya di seluruh wilayah Jatim. "Kami juga sedang dalam pengembangan jaringan sistem online dan ATM banking," terangnya.

Oleh: Erik Purnama Putra
ed: firkah fansuri