KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Fintech syariah yang terdaftar di Otoritas Jasa Keungan (OJK) telah melampaui target penyaluran pinjaman tahun 2018. Dua fintech syariah yang terdaftar di OJK, yaitu Dana Syariah dan Ammana telah menyalurkan pinjaman sebesar Rp 70 miliar dan Rp 7 miliar.

Ketua Umum Asosiasi Fintech Syariah Indonesia (AFSI) Ronald Yusuf Wijaya memperkirakan, penyaluran pinjaman fintech syariah akan mencapai Rp 60 miliar sampai akhir tahun. Bahkan, prediksi Ronald ini juga turut memasukkan empat fintech syariah yang tengah dalam proses pencatatan di OJK.

“Kami memperkirakan jumlah pinjaman akan akan sampai Rp 50 miliar–Rp 60 miliar karena masyarakat makin penasaran dengan pembiayaan syariah,” kata Ronald kepada Kontan.co.id, Kamis (2/8).

Sementara, Sekreterais Jenderal AFSI, Lutfhi Adhiansyah mengatakan, pihaknya belum memiliki target penyaluran pinjaman untuk 2019. Menurutnya, tahun depan AFSI akan fokus terlebih dahulu pada peningkatan kualitas dari para anggotanya.

“Pasti dengan teknologi kita harus menunjukkan kecepatan, layanan, dan profesionalitas. Akan tetapi, di atas semua itu adalah kualitas. Jangan sampai ngejar kecepatan tapi secara kualitas amburadul,” kata dia saat dihubungi Kontan.co.id, Jumat (14/12).

Selain itu, AFSI juga akan meningkatkan edukasi dan perlindungan terhadap konsumen dengan memastikan semua anggotanya menjalankan prinsip-prinsip syariah secara benar. AFSI juga akan mengedepankan semangat kolaborasi dengan bank-bank syariah serta anggota asosiasi.

Hal itu sudah terbukti dengan Dana Syariah yang telah menjalin pembicaraan dengan tiga bank syariah, salah satunya adalah Bank Negara Indonesia (BNI) Syariah untuk menjadi investor siaga di fintech tersebut. Semangat kolaborasi fintech dengan perbankan juga mendapat sambutan baik dari Bank Indonesia (BI). Direktur Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran (DKSP) Bank Indonesia Erwin Haryono mengatakan bank dan fintech harus berkolaborasi karena ada begitu banyak pangsa pasar pendanaan yang tidak bisa dilayani oleh bank, termasuk 60 juta Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang ada di Indonesia.

“Karena buat bank terlalu mahal untuk masuk ke mereka. Mereka punya kredit worthiness yang sangat rendah. Apalagi bank tidak tahu informasi UMKM sehingga kalau bank harus meminjamkan uangnya ke UMKM, ia menghadapi risiko yang besar,” kata Erwin pada Kamis (13/12).

Untuk itu, menurut dia, kemunculan berbagai fintech ini dapat menjadi jembatan antara bank dan UMKM. “Jadi jangan dianggap sebagai saingan. Kami dari BI sangat ingin mendorong kolaborasi tadi karena menang banyak pangsa ekonomi yang belum di-serve oleh BI," kata dia. Di samping itu, menurut Erwin, bank juga bisa masuk ke pangsa pasar ini dengan memanfaatkan perkembangan teknologi melalui credit scoring UMKM ini.

Hingga kini, anggota AFSI sudah mencapai 60 fintech yang terdiri dari P2P lending, payment, aggregator, dan e-commerce. Dari 60 anggotanya, 2 fintech P2P lending sudah terdaftar di OJK dan hampir 10 fintech tengah mengurus dokumen untuk tercatat di OJK, di antaranya Ethis Crowd, Kapital Boost, SyarQ, dan Syarfi.