Artikel

Beberapa Jual Beli Yang Sah, Tapi Dilarang

Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah menjadikan manusia masing-masing saling membutuhkan satu sama lain, supaya mereka tolong menolong, tukar menukar keperluan dalam segala urusan kepentingan hidup masing-masing, baik dengan jalan jual beli, baik dalam urusan kepentingan sendiri maupun untuk kemaslahatan umum. Dengan cara demikian kehidupan masyarakat menjadi teratur dan subur, pertalian yang satu dengan yang lain pun menjadi teguh. Akan tetapi, sifat loba dan tamak tetap ada pada manusia, suka mementingkan diri sendiri supaya hak masing-masing jangan sampai tersia-sia, dan juga menjaga kemaslahatan umum agar pertukaran dapat berjalan dengan lancar dan teratur. Oleh sebab itu, agama memberi peraturan yang sebaik-baiknya sehingga perbantahan dan dendam mendendam tidak akan terjadi.

Read more ...

Bahaya Harta Haram

Dari Jabir bin Abdillah RA, ia berkata, “Telah diriwayatkan kepada kami bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Wahai Kaab bin Ujroh, aku mohonkan perlindungan untukmu kepada Allah dari kepemimpinan orang-orang bodoh.’

Kaab bertanya, ‘Apakah itu, wa hai Rasulullah?’

Beliau menjawab, ‘Setelahku akan ada para penguasa di mana siapa yang ikut mereka dan membenarkan ucapannya serta mendukung kezalimannya maka mereka bukanlah golonganku dan aku tidak termasuk golongannya dan mereka tidak akan masuk dalam telagaku’.”

“Dan barang siapa yang tidak mau ikut mereka, tidak membenarkan ucapannya dan tidak mendukung kezalimannya, maka mereka termasuk golonganku dan aku termasuk golongannya serta mereka akan masuk dalam telagaku.”

Read more ...

Allah Selalu Lindungi Pemakmur Masjid

"Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah lah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut kepada siapapun selain Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. At-Taubah: 18)

Masjid dibangun bukan saja sebagai tempat kemudahan beribadah, tetapi juga untuk menjadi katalis pembangunan dan lambang keutuhan serta kesatuan umat Islam. Jika kita menyorot sejarah, kelahiran negara Islam yang pertama berasaskan tauhid, persaudaraan dan kesatuan. Asas yang kukuh itu terpancar daripada masjid.

Masjid Nabawi telah menjadi pusat aktivitas rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Di masjid inilah Baginda merancang dan membangun umat. Sahabat-sahabat dan pengikut-pengikutnya juga memelihara sunah itu, hinggalah Islam berkembang ke seluruh semenanjung Tanah Arab dan seterusnya ke Eropa, Cina, Asia, dan seluruh dunia seperti yang kita lihat pada hari ini.

Read more ...

Apa Itu Ihtikar?

Ihtikar berasal dari kata hakara yang artinya az-zulm (aniaya) dan isa' al-mu'asyarah (merusak pergaulan). Secara istilah berarti menyimpan barang dagangan untuk menunggu lonjakan harga. Menurut Imam Asy-Syaukani (wafat 1834) ahli hadits dan usul fikih, ihtikar adalah penimbunan barang dagangan dari peredarannya. Imam al-Ghazali mengartikan sebagai penjual makanan yang menyimpan barang dagangannya dan menjualnya setelah harganya melonjak. Adapun menurut ulama madzab Maliki, ihtikar adalah menyimpan barang oleh produsen, baik berupa makanan, pakaian, dan segala barang yang dapat merusak pasar.

Semua pendapat tersebut secara esensi mempunyai pengertian yang sama, yaitu menyimpan barang yang dibutuhkan masyarakat dan memasarkannya setelah harga melonjak, namun dari jenis barang yang disimpan atau ditimbun terjadi perbedaan. Imam asy-Syaukani dan madzab Maliki tak merinci barang apa yang disimpan tersebut. Berbeda dengan pendapat keduanya, Imam al-Ghazali mengkhususkan ihtikar kepada jenis makanan.

Read more ...

Adakah Pemutihan Utang dengan Utang dalam Islam?

Pengertian

Dalam khazanah ekonomi Islam dikenal istilah "muqashshah". Dalam bahasa Arab, muqashshah berarti, A mempunyai utang kepada B sebesar utang B kepada A, sedangkan secara istilah, muqashshah adalah dianggap lunasnya utang A kepada B, karena B mempunyai utang kepada A. Jadi, muqashshah adalah salah satu cara melunasi utang. Ibnu Jizzi, seorang ulama bermazhab Maliki mengatakan, "Muqashshah adalah pemutihan utang dengan utang."

Beda Muqashshah Dengan Ibra'

Dalam bahasa Arab, ibra' (pemutihan utang) memiliki makna membersihkan, memurnikan, dan menjauhi sesuatu. Adapun secara istilah, ibra’ adalah pemutihan kewajiban yang ada di pihak lain. Bedanya dengan muqashshah, muqashshah adalah pemutihan utang dengan kompensasi, sedangkan ibra’ adalah pemutihan utang tanpa kompensasi apa pun.

Read more ...