ARTIKEL

Makna Kemerdekaan pada Proklamasi 17 Agustus 1945 yang dibacakan Soekarno, tidak secara eksplisit menerangkan apa makna kemerdekaan bagi bangsa Indonesia. Ketika Soekarno menyatakan kemerdekaan bangsa Indonesia, tentu yang dimaksudnya adalah kemerdekaan Indonesia dari penindasan dan penjajahan kaum penjajah.

Dalam UUD 1945 ditegaskan bahwa kemerdekaan adalah pintu gerbang menuju cita-cita kebangsaan dan keindonesiaan yang sejati. Dari sini, kita bangsa Indonesia dituntut menjadi seseorang yang dapat mengharumkan bangsa melalui prestasi dan cita-cita yang tinggi.


 

Jakarta, CNBC Indonesia - Persaingan antara industri perbankan dan perusahaan financial technology (fintech) kian ketat. Kini, hampir seluruh layanan perbankan bisa diakses melalui fintech yang lebih mudah dari segi prosedur.

Sejumlah bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) turut masuk ke bisnis ini guna menjaring pangsa pasar yang diambil berbagai perusahaan fintech.

Bank yang terhimpun dalam bank himpunan bank milik negara (Himbara), yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), pun mulai masuk fintech atas desakan Menteri BUMN Rini Soemarno. Fintech tersebut diberi nama LinkAja.


Masa Rasulullah saw (1-11 H/622-632 M)

Baitul Mal sesungguhnya telah ada sejak masa Rasulullah SAW, yakni ketika kaum Muslimin mendapatkan ghanimah (rampasan perang) pada Perang Badar. Abdul Qadim Zallum menyebutkan dalam Al-Amwal fi Daulah al-Khilafah (1983), saat itu para sahabat berselisih paham mengenai cara pembagian harta rampasan tersebut sehingga turun firman Allah SWT menjelaskan hal itu.

Ayat itu (QS. Al-Anfaal: 1) berbunyi, “Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah, ‘Harta rampasan perang itu adalah milik Allah dan Rasul-Nya, oleh sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesama kalian, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kalian benar-benar orang-orang yang beriman'.”

Dengan ayat itu, Allah menjelaskan sebuah hukum tentang pembagian ghanimah, menetapkannya sebagai hak bagi seluruh Muslim, sekaligus memberikan wewenang kepada Rasulullah SAW untuk membagikannya sesuai pertimbangannya mengenai kemaslahatan kaum Muslimin.

Hal itu berarti pula bahwa ghanimah Perang Badar kala itu menjadi hak Baitul Mal, yang pengelolaannya dilakukan oleh waliyyul amri kaum Muslimin yang tak lain adalah Rasulullah SAW sendiri.

Dengan demikian, pada masa Rasulullah SAW, Baitul Mal mempunyai pengertian sebagai pihak yang menangani harta benda kaum Muslimin, baik pendapatan maupun pengeluaran. Karena belum melembaga, harta yang ada di Baitul Mal selalu habis seketika pada hari diperolehnya harta tersebut karena dibagikan ataupun dibelanjakan untuk urusan kaum Muslimin.

 


Page 1 of 7

header-bprsyariah.jpeg

INFORMASI HUBUNGI

Kantor Pusat
Ruko Graha Niaga Citra 6-7 Lt.2
Jl. Raya Surabaya -Krian KM. 29 Sidoarjo
(031) 8978604
Fax. (031) 8978605

© 2022 Mojokertocyber. All Rights Reserved.